Penyakit Akibat Virus dan Terapi Antibiotika

·

apt. Susan Safitri,S.Farm

Sudah hampir dua tahun kita hidup berdampingan dengan Coronavirus atau yang umum kita sebut Covid-19. Bermacam variasi virus mulai dari varian Alpha hingga yang terbaru varian Delta. Varian terbaru ini cukup meresahkan masyarakat akibat tingkat penularannya yang sangat tinggi.
Hasil temuan Badan Litbangkes mencatat, total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 90 % akibat terpapar varian Delta. Gejala yang diderita antara lain demam, mual dan muntah, flu parah, sakit kepala, sakit tenggorokan, batuk,diare, sakit perut, nyeri sendi, dan hilang selera makan. Gejala-gejala yang muncul tersebut menyebabkan masyarakat berusaha mencari pengobatan mandiri di apotek-apotek atau toko obat terdekat termasuk pengobatan dengan antibiotik.

Benarkah Antibiotik dapatdigunakan dalam pengobatan akibat virus?
COVID-19 adalah infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus Corona atau yang bernama resmi SARS-CoV-2. Penularan virus umumnya terjadi melalui percikan air liur penderita saat batuk, bersin, atau bicara. Sedangkan antibiotik adalah obat untuk mengatasi infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Obat ini berfungsi untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri di dalam tubuh.
Virus dan bakteri adalah dua mikroorganisme yang berbeda, mulai dari struktur sel nya hingga cara berkembangbiaknya. Antibiotikbekerja dengan cara menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri dengan cara menyerang struktur tertentu pada tubuh bakteri. Sehingga Antibiotik tidak dapat digunakan sebagai obat antivirus.

Lalu apa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah atau mengobati virus?
Penyakit akibat virus termasuk self limiting disesase yaitu penyakit yang dapat sembuh secara spontan dengan atau tanpa pengobatan khusus. Dalam kebanyakan kasus tidak perlu upaya khusus untuk
menyembuhkannya karena tubuh manusia mampu melakukan perlawanan dengan imunitas. Contohnya infeksi ringan seperti flu cukup diatasi dengan istirahat yang cukup dan minum vitamin untuk meningkatkan imunitas.

Selain itu, jika sedang sakit batuk atau pilek, dianjurkan untuk
mengenakan masker dan menghindari bepergian untuk sementara.
Hal yang juga tak kalah penting diterapkan saat ini adalah tindakan
pencegahan agar virus tidak menyebar dan risiko terjadinya infeksi
berkurang. Caranya, cuci tangan secara teratur dengan air bersih dan sabun, menggunakan hand sanitizer saat tidak memungkinkan untuk mencuci tangan denga sedang sakit, dan jaga daya tahan tubuh tetap prima.

Bagaimana agar tidak Terpapar Covid-19?
Vaksin COVID-19 merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah infeksi virus Corona. Hingga sekarang, vaksinasi COVID-19 masih terus digencarkan, baik itu vaksinasi dosis pertama, dosis kedua, hingga booster.
Harapannya, sebagian besar masyarakat bisa mendapatkan vaksinasi
sehingga bisa tercapai herd imunity. Penelitian untuk obat yang mampu mengatasi COVID-19 juga masih terus dikembangkan. Setidaknya, ada sederet obat yang saat ini digunakan dalam
terapi COVID-19, seperti paxlovid yang merupakan kombinasi ritonavir dan nirmatrevir, remdesivir, dan molnupiravir.
Jadi, jangan sembarangan mengkonsumsi obat-obatan ya. Tetap jaga kesehatan dan terapkan pola hidup bersih dan sehat.

Tags:

One response to “Penyakit Akibat Virus dan Terapi Antibiotika”

  1. A WordPress Commenter Avatar

    Hi, this is a comment.
    To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
    Commenter avatars come from Gravatar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *